Sponsors Link

Teori Pengurangan Ketidakpastian – Asumsi – Konsep

Sebagaimana teori-teori komunikasi antar pribadi atau teori komunikasi interpersonal lainnya seperti teori interaksi simbolik, teori penetrasi sosial, teori akomodasi komunikasi, teori pertukaran sosial, teori perbandingan sosial, teori disonansi kognitif, dan teori atribusi yang telah dikembangkan oleh para ahli, maka teori pengurangan ketidakpastian pun dikembangkan dengan tujuan untuk memungkinkan kemampuan komunikator dalam melakukan prediksi dan menjelaskan interaksi awal.

Teori pengurangan ketidakpastian atau uncertainty reduction theory adalah sebuah teori yang berakar dari perspektif sosial psikologi yang menitikberatkan pada proses-proses dasar bagaimana kita menambah pengetahuan kita tentang orang lain. Menurut teori pengurangan ketidakpastian, kita ingin dapat memprediksi perilaku orang lain dan oleh karenanya kita akan termotivasi untuk mencari informasi tentang orang lain.

Teori pengurangan ketidakpastian dikembangkan oleh Charles Berger dan Richard Calabrese untuk menggambarkan saling keterhubungan antara tujuh faktor penting dalam proses pertukaran secara diadik yaitu komunikasi verbal, ekspresi afiliasi nonverbal, perilaku pencarian informasi, kedekatan, timbal balik atau pertukaran, kesamaan, dan kesukaan. Dari faktor-faktor inilah, para peneliti kemudian mengenalkan sekumpulan aksioma atau proposisi yang mendukung penelitian tentang ketidakpastian sebelumnya. Masing-masing aksioma menyatakan sebuah hubungan antara konsep komunikasi  dan ketidakpastian. Dari dasar aksioma ini, para teoris dapat menggunakan logika deduktif untuk merumuskan 21 teorema yang melingkupi teori pengurangan ketidakpastian.

Dilihat dari segi psikologi komunikasi, hubungan interpersonal merupakan salah satu hal penting yang harus dipahami dalam sistem komunikasi interpersonal. Hal ini dikarenakan dalam proses komunikasi interpersonal tidak hanya melibatkan komponen-komponen komunikasi atau elemen-elemen komunikasi, faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi, tahap-tahap komunikasi serta hambatan-hambatan komunikasi yang sangat penting dalam mewujudkan komunikasi yang efektif namun juga menekankan pada hubungan interpersonal yang tak kalah pentingnya. Untuk itu, dalam teori komunikasi interpersonal, teori pengurangan ketidakpastian dimasukkan ke dalam teori-teori tentang motivasi dalam hubungan interpersonal. Selain komunikasi komunikasi interpersonal, teori pengurangan ketidakpastian juga diaplikasikan dalam komunikasi organisasi.

Sejarah

Pada tahun 1975, Charles Berger dan Richard Calabrese mengembangkan teori pengurangan ketidakpastian untuk menjelaskan bagaimana komunikasi digunakan untuk mengurangi ketidakpastian antara  dua orang asing yang terlibat dalam percakapan pertamanya. Para peneliti sebelumnya telah merumuskan sebuah pendekatan dalam komunikasi interpersonal melalui perspektif empiris. Berbagai hipotesis telah dibangun dari teori-teori psikologi sosial. Namun kurangnya perhatian pada proses  komunikasi interpersonal memotivasi Berger dan Calabrese untuk merumuskan hipotesis-hipotesis yang secara langsung melibatkan perilaku komunikasi.

Dalam merumuskan teori pengurangan ketidakpastian, Charles Berger dan Richard Calabrese dipengaruhi oleh beberapa teoris lainnya seperti Leon Festinger (pencetus teori disonansi kognitif dan teori perbandingan sosial), Fritz Heider (pencetus teori-teori konsistensi kognitif), serta Claude E. Shannon dan Warren Weaver (pencetus teori informasi). Teori disonansi kognitif menjelaskan bagaimana sebuah keseimbangan diantara kognisi-kognisi dapat berdampak pada seorang individu.

Menurut teori disonansi kognitif, tiga macam hubungan dapat terjadi diantara kognisi-kognisi yaitu hubungan konsonan dimana kognisi berada dalam keseimbangan satu sama lain; hubungan disonan dimana kognisi-kognisi saling berkompetisi satu sama lain; dan hubungan tidak relevan dimana kognisi tidak berdampak terhadap satu sama lain. Sebagaimana ketidakpastian, disonansi kognitif memiliki elemen atau unsur keinginan seseorang untuk mengurangi ketidaknyaman.

Sementara  itu, teori perbandingan sosial menyatakan bahwa setiap individu melihat umpan balik yang diberikan orang lain untuk mengevaluasi penampilan dan kemampuan mereka. Untuk mengevaluasi dirinya, individu biasanya akan mencari pendapat orang lain yang memiliki kesamaan dengan dirinya. Kebutuhan perbandingan sosial dapat menghasilkan tekanan konformitas. Charles Berger dan Richard Calabrese mengaitkan perbandingan sosial dengan teori pengurangan ketidakpastian dengan menyatakan bahwa Festinger telah menyarankan bahwa seseorang mencari kesamaan orang lain yang terdekat ketika mereka mengalami tingkat ketidakpastian yang tinggi berdasarkan kesesuaian perilaku dan/atau pendapat mereka dalam situasi tertentu.

[AdSense-B]

Baca juga :

Teori lain yang mempengaruhi teori pengurangan ketidakpastian adalah teori-teori konsistensi kognitif yang dirumuskan oleh Fritz Heider. Teori-teori konsistensi kognitif berpendapat bahwa setiap individu lebih suka ketika kognisi mereka berada dalam kesepakatan dengan orang lain. Dalam mengembangkan teori pengurangan ketidakpastian Heider menyatakan bahwa setiap orang akan mencari informasi secara aktif untuk dapat memprediksi dan menjelaskan tindakan yang dilakukan oleh orang lain.

Teori selanjutnya yang turut mempengaruhi perkembangan teori pengurangan ketidakpastian adalah teori informasi yang dikemukakan oleh Claude E. Shannon dan Warren Weaver. Mereka berpendapat bahwa ketika orang saling berinteraksi satu sama lain untuk pertama kalinya, terdapat berbagai ketidakpastian khususnya ketika probabilitas bagi berbagai alternatif situasi sangat tinggi dan kemungkinan terjadinya juga sama tinggnya. Mereka mengasumsikan bahwa ketidakpastian dapat dikurangi ketika sejumlah alternatif adalah terbatas dan/atau berbagai alternatif yang dipilih cenderung berulang.

Itulah latar belakang sejarah teori pengurangan ketidakpastian yang disertai dengan berbagai teori dari para ahli psikologi sosial lainnya yang mempengaruhinya.

Baca juga :

Asumsi

Menurut L.H Turner dan R. West (2010), terdapat tujuh asumsi terkait dengan teori pengurangan ketidakpastian, yaitu :

  1. Orang mengalami ketidakpastian dalam konteks interpersonal.
  2. Ketidakpastian adalah sebuah keadaan yang tidak menyenangkan sehingga menghasilkan tekanan kognitif.
  3. Ketika orang asing saling bertemu maka perhatian utama mereka adalah untuk mengurangi ketidakpastian mereka atau untuk menambah kemampuan untuk memprediksi.
  4. Komunikasi interpersonal atau komunikasi antar pribadi adalah sebuah proses perkembangan yang terjadi melalui beberapa tahapan.
  5. Komunikasi interpersonal atau komunikasi antar pribadi adalah sarana utama bagi pengurangan ketidakpastian.
  6. Jumlah dan sifat informasi yang dibagi oleh masing-masing orang dapat berubah seiring dengan berjalannya waktu.
  7. Adalah mungkin untuk memprediksi perilaku orang lain dalam sebuah mode hukum.

Baca juga :

Aksioma

Teori pengurangan ketidakpastian menyuguhkan sekumpulan aksioma tentang hubungan antara ketidakpastian dan komunikasi. Sebuah aksioma menentukan hubungan kausal yang diasumsikan ada di antara dua variabel. Sejatinya hanya terdapat 7 (tujuh) aksioma dalam teori pengurangan ketidakpastian yang dikemukakan oleh Charles Berger dan Richard Calabrese. Namun dengan telah dilakukannya berbagai penelitian oleh beberapa ahli lain maka ketujuh aksioma tersebut mengalami penambahan.

Baca juga :

[AdSense-A]

Dengan demikian, aksioma-aksioma dalam teori pengurangan ketidakpastian menurut para ahli adalah sebagai berikut :

  • Aksioma 1 : Komunikasi verbal. Semakin tinggi jumlah komunikasi verbal yang terjadi antara interaktan komunikasi maka tingkat ketidakpastian bagi masing-masing interaktan komunikasi akan mengalami pengurangan.
  • Aksioma 2 : Ekspresi afiliasi nonverbal. Yang termasuk dalam ekspresi afiliasi nonverbal adalah kontak mata, anggukan kepala, gesture tangan, dan jarak fisik antara interaktan komunikasi. Semakin bertambah ekspresi afiliasi nonverbal maka tingkatan ketidakpastian akan berkurang dalam situasi awal. Pengurangan tingkatan ketidakpastian dapat menyebabkan peningkatan dalam ekspresi afiliasi nonverbal.
  • Aksioma 3 : Pencarian informasi. Tingginya tingkatan ketidakpastiaan dapat menyebabkan meningkatnya pencarian informasi perilaku. Semakin menurun tingkat ketidakpastian, maka pencarian informasi perilaku akan mengalami penurunan.
  • Aksioma 4 : Tingkat kedekatan isi komunikasi. Tingginya tingkat ketidakpastian dalam suatu hubungan menyebabkan berkurangnya tingkat kedekatan isi komunikasi. Semakin rendah ketidakpastian, menghasilkan tingginya tingkat kedekatan.
  • Aksioma 5 : Timbal balik. Tingginya tingkat ketidakpastian menghasilkan tingginya timbal balik. Semakin rendah tingkatan ketidakpastian menghasilkan rendahnya timbal balik. Salah satu cara palng mudah untuk mengurangi ketidakpastian bersama adalah melalui pemberian dan penerimaan informasi yang sama pada tingkat pertukaran yang sama. Dengan berkurangnya ketidakpastian maka pertukaran informasi simetris di tingkat yang cepat tidak diperlukan.
  • Aksioma 6 : Kesamaan. Kesamaan yang terjadi antara interaktan mengurangi ketidakpastian, sementara itu ketidaksamaan menghasilkan peningkatan ketidakpastian. Perbedaan ketidaksamaan antara interaktan akan meningkatkan ketidakpastian karena jumlah penjelasan alternative bagi perilaku juga mengalami peningkatan.
  • Aksioma 7 : Kesukaan. Meningktanya tingkat ketidakpastian menghasilkan penurunan dalam kesukaan, sebaliknya menurunnya ketidakpastian menghasilkan peningkatan kesukaan. Beberapa ahli teori telah menyajikan berbagai bukti yang menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara kesamaan dan keinginan. Dalam pandangan Aksioma 6, kecenderungan yang dicari orang adalah kesamaan dengan orang lain dalam rangka untuk mengurangi ketidakpastian yang cenderung harus menghasilkan kesukaan.
  • Aksioma 8 : Jaringan bersama. Jaringan komunikasi bersama mengurangi ketidakpastian, sementara itu kurangnya berbagi jaringan dapat meningktakan ketidakpastian. Aksioma ini didasarkan pada penelitian lanjutan yang dilakukan oleh Berger dan William B. Gudykunst pada tahun 1991.
  • Aksioma 9 : Kepuasan komunikasi. Terdapat hubungan terbalik anatara ketidakpastian dan kepuasan komunikasi. Kepuasan komunikasi didefinisikan sebagai respon afektif terhadap pencapaian tujuan dan harapan komunikasi. Aksioma ini disarankan oleh James Neuliep dan Erica Grohskopf di tahun 2000 dan merupakan sebuah aksioma yang penting karena berkaitan dengan ketidakpastian terhadap variabel hasil komunikasi tertentu.

Baca juga : Paradigma Penelitian Kualitatif – Perbedaan Komunikasi Verbal dan Nonverbal

Teorema    

Charles Berger dan Richard Calabrese membentuk beberapa teorema yang didasarkan pada ketujuh aksioma yang telah mereka rumuskan sebelumnya. Adapun teorema dari teori pengurangan ketidakpastian adalah :

  • Jumlah komunikasi verbal dan ekspresi afiliasi nonverbal berhubungan positif.
  • Jumlah komunikasi verbal dan tingkat kedekatan atau keintiman komunikasi berhubungan positif.
  • Jumlah komunikasi verbal dan perilaku pencarian informasi berbanding terbalik.
  • Jumlah komunikasi verbal dan tingkat timbal balik berbanding terbalik.
  • Jumlah komunikasi verbal dan keinginan berhubungan positif.
  • Jumlah komunikasi verbal dan kesamaan berhubungan positif.
  • Ekspresi afiliasi nonverbal dan tingkat keintiman isi komunikasi berhubungan positif.
  • Ekspresi afiliasi nonverbal dan pencarian informasi dan pencarian informasi bersifat terbalik.
  • Ekspresi afiliasi nonverbal dan tingkat timbal balik berbanding terbalik.
  • Ekspresi afiliasi nonverbal dan kecintaan afiliasi nonverbal berhubungan positif.
  • Ekspresi afiliasi nonverbal dan kesamaan berhubungan positif.
  • Pencarian informasi dan timbal balik berhubungan positif.
  • Pencarian informasi dan keinginan informasi berhubungan begatif.
  • Pencarian informasi dan kesamaan berhubungan positif.
  • Tingkat keintiman dan pencarian informasi berhubungan terbalik.
  • Tingkat keintiman dan timbal balik berhubungan negatif.
  • Tingkat keintiman dan kemiripan berhubungan secara postif.
  • Tingkat keintiman dan kesukaan berhubungan positif.
  • Tingkat timbal balik dan kesukaan berhubungan negatif.
  • Tingkat timbal balik dan kesamaan berhubungan negatif.
  • Kesamaan dan keinginan berhubungan positif.

Konsep

Studi komunikasi interpersonal kini cenderung menitikberatkan pada komunikasi diadik, interaksi tatap muka atau fungsi-fungsi komunikasi dalam membangun hubungan interpersonal. Penelitian komunikasi interpersonal secara khusus menitikberatkan pada pengembangan, pengelolaan, dan disolusi hubungan. Telah lama disadari oleh para peneliti bahwa komunikasi interpersonal memotivasi pengurangan ketidakpastian. Sejak dikenalkan pada tahun 1975, ketidakpastian merupakan bidang studi utama yang berkontribusi terhadap perkembangan bidang komunikasi secara keseluruhan.

a. Pengertian Ketidakpastian

Untuk mengetahui apa itu ketidakpastian dapat kita telusuri dari kerangka kerja teori informasi yang dirumuskan oleh  Claude E. Shannon dan Warren Weaver yang di tahun 1949 telah mengenalkan konsep ketidakpastian. Menurut Shannon dan Weaver, ketidakpastian ada atau terjadi dalam sebuah situasi ketika jumlah kemungkinan alternatiff yang tinggi sama dengan kemungkinan terjadinya. Mereka mengaitkan pandangan mereka tentang ketidakpastian dengan transmisi pesan dan berkontribusi terhadap perkembangan teori pengurangan ketidakpastian.

Charles Berger dan Richard Calabrese kemudian mengadopsi konsep ketidakpastian dari teori informasi dan mengembangkannya ke dalam komunikasi interpersonal. Kemudian, mereka mendefinisikan ketidakpastian sebagai jumlah berbagai alternatif yang mungkin dimiliki oleh masing-masing interaktan. Semakin besar tingkat ketidakpastian yang ada dalam suatu situasi maka akan semakin kecil kesempatan bagi setiap individu untuk dapat memprediksi perilaku dan keterjadian.

Baca juga : Pengertian Studi Kasus Menurut Para Ahli – Teori Komunikasi Dua Tahap

b. Jenis-jenis Ketidakpastian  

Terdapat berbagai macam ketidakpastian yaitu ketidakpastian kognitif (cognitive uncertainty), dan ketidakpastian perilaku (behavioral uncertainty).

  • Ketidakpastian kognitif (cognitive uncertainty)

Ketidakpastian kognitif berkaitan dengan tingkat ketidakpastian yang terkait dengan kognisi berupa kepercayaan dan sikap satu sama lain dalam situasi tersebut. Tingginya ketidakpastian yang terjadi dalam interaksi awal disebabkan individu tidak sadar akan kepercayaan dan sikap pihak lain.

  • Ketidakpastian perilaku (behavioral uncertainty)

Ketidakpastian perilaku berkaitan dengan sejauh mana perilaku dapat diprediksi dalam situasi tertentu. Ketidakpastian adalah salah satu motivasi di balik adopsi norma di sebagian besar masyarakat dimana orang cenderung untuk mematuhinya. Dan apabila dalam percakapan awal seseorang memilih untuk mengabaikan norma-norma tersebut, maka akan ada resiko untuk meningkatkan ketidakpastian perilaku dan mengurangi kemungkinan interaksi di masa depan. Pengungkapan diri yang tidak tepat merupakan contoh bentuk pengabaian norma masyarakat.

Baca juga : Kode Etik Public Relations – Peran Komunikasi dalam Organisasi

c. Proses Pengurangan Ketidakpastian

Proses pengurangan ketidakpastian dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu pengurangan ketidakpastian proaktif dan pengurangan ketidakpastian retroaktif.

  • Pengurangan ketidakpastian proaktif (proactive uncertainty reduction). Pengurangan ketidakpastian proaktif terjadi dengan membuat prediksi kemungkinan tindakan alternative orang lain yang mungkin diambil adalah perencanaan komunikasi strategis sebelum interaksi. Dalam pertemuan awal orang akan mencoba memprediksi apa yang mungkin didengar orang lain berdasarkan pada makna yang mereka dapatkan dari pernyataan atau pengamatan sebelumnya atau informasi yang telah dipastikan.
  • Pengurangan ketidakpastian retroaktif (retroactive uncertainty reduction). Penurunan ketidakpastian retroaktif adalah proses menganalisis situasi pasca interaksi yang mengacu pada membuat penjelasan untuk perilaku orang lain dan menafsirkan arti pilihan perilaku.

Baca juga : Sejarah Perkembangan Tekologi Infromasi –  Teori Politik Ekonomi

d. Tahapan Perkembangan Hubungan

Charles Berger dan Richard Calabrese membagi interaksi awal ke dalam tiga tahapan, yaitu the entry stage, the personal stage, dan the exit stage. Masing-masing tahapan mencakup perilaku interaksional yang menyajikan berbagai indikator kesukaan dan ketidaksukaan.

  • Tahap masuk (the entry stage).

Pada tahapan ini masing-masing interaktan menggunakan norma-norma perilaku. Dalam artian, setiap individu memulai interaksinya yang dibatasi oleh berbagai aturan serta norma baik secara eksplisit maupun implisit. Pertukaran isi pesan seringkali bergantung pada norma-norma budaya. Tingkat keterlibatan akan meningkat seiring dengan pergerakan interaktan ke dalam tahap kedua.

  • Tahap pribadi (the personal stage)

Tahapan ini terjadi manakala masing-masing interaktan mulai mengeksplorasi sikap dan kepercayaan interaktan lainnya. Masing-masing individu masuk ke tahapan ini setelah mereka memiliki beberapa tahapan interaksi dengan orang lain. Salah satu pihak akan menyelidiki berbagai indikasi yang dimiliki oleh pihak lain terkait dengan nilai, norma, dan permasalahan pribadi. Pelibatan emosional akan meningkat seiring dengan meningkatnya penyingkapan atau pengungkapan diri.

  • Tahap keluar (the exit stage).

Pada tahapan ini salah satu pihak akan memutuskan pakah ia akan melanjutkan hubungan atau tidak. Jika tidak ditemui kesukaan bersama, maka pihak lain juga akan memilih untuk tidak melanjutkan hubungan.

Memahami siklus perkembangan hubungan adalah kunci untuk mempelajari bagaimana individu mencari cara untuk mengurangi ketidakpastian tentang orang lain.

Baca juga : Jurnalisme Radio – Pengaruh Media Massa Terhadap Masyarakat

[AdSense-A]

Kelebihan dan Kekurangan Teori

Menurut Riley Beard (2015), teori pengurangan ketidakpastian memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan, yaitu :

a. Kelebihan teori pengurangan ketidakpastian

Teori pengurangan ketidakpastian memiliki beberapa kelebihan, diantaranya adalah :

  • Teori pengurangan ketidakpastian masih digunakan secara luas hingga kini walau telah terjadi pergeseran budaya.
  • Teori pengurangan ketidakpastian telah diuji dan didukung dalam berbagai konteks.
  • Teori pengurangan ketidakpastian memberikan wawasan dan prediksi yang berharga tentang hubungan interpersonal.

b. Kekurangan teori pengurangan ketidakpastian

Teori pengurangan ketidakpastian juga memiliki beberapa kekurangan, diantaranya dalah :

  • Teori pengurangan ketidakpastian terlalu eropasentris yang berimplikasi pada penguatan praktek-praktek ideology dan budaya Barat yang dominan, devaluasi budaya lain, dan mengabaikan cara lain mengurangi ketidakpastian.
  • Sebagian besar penerapan teori pengurangan ketidakpastian menggunakan metode penelitian kuantitatif yang berimplikasi pada generalisasi yang mengacu pada stereotype, tidak memberikan kedalaman informasi, dan mengabaikan pengalaman pribadi.
  • Teori pengurangan ketidakpastian dikembangkan hanya untuk konteks interaksi awal, komunikasi tatap muka, dan budaya Barat. Implikasinya adalah hasil dalam konteks lain mungkin tidak valid, dan menguatkan teori tetapi tidak memberikan wawasan yang benar dalam konteks yang spesifik.

Baca juga:

Manfaat Mempelajari Teori Pengurangan Ketidakpastian

Mempelajari teori pengurangan ketidakpastian dapat memberikan beberapa manfaat, diantaranya adalah sebagai berikut :

  • Kita memahami latar belakang sejarah teori pengurangan ketidakpastian.
  • Kita memahami berbagai asumsi dalam teori pengurangan ketidakpastian.
  • Kita memahami berbagai aksioma dalam teori pengurangan ketidakpastian.
  • Kita memahami berbagai teorema dalam teori pengurangan ketiakpastian.
  • Kita memahami berbagai konsep dasar dalam teori pengurangan ketidakpastian.
  • Kita memahami kelebihan dan kekurangan teori pengurangan ketidakpastian.

Demikianlah ulasan singkat tentang teori pengurangan ketidakpastian. Semoga dapat menambah wawasan dan pengetahuan kita tentang teori pengurangan ketidakpastian beserta kelebihan dan kekurangannya.

, , , ,