Sponsors Link

Sejarah Penerbitan Buku di Indonesia dan Perkembangannya

Sponsors Link

Penerbitan buku di Indonesia ternyata tidak muncul begitu saja. Penerbitan buku di Indonesia memiliki sejarah yang cukup panjang, apalagi ketika masyarakat Indonesia kebanyakan adalah petani dan nelayan. Seperti apakah sejarah penerbitan buku di Indonesia hingga terus maju dan berkembang hingga saat ini?

ads

Sejarah Awal Penerbitan

Kemunculan penerbitan di Indonesia ternyata tidak terlepas dari peran penting Hindia Belanda. Ratusan tahun menjajah Indonesia, Belanda juga ikut membawa beberapa peradaban baru di Indonesia, termasuk penerbitan.

Pertama kali, penerbitan buku di Indonesia dimulai dari didatangkannya sebuah mesin cetak oleh seorang misionaris gereja. Ia membawa mesin cetak langsung dari Eropa untuk menciptakan beberapa lembaran untuk menyebarluaskan agamanya di Indonesia.

Baca juga :

Namun ternyata mesin cetak tersebut belum cukup untuk memenuhi kebutuhan lembaran dakwahnya. Lalu ia pun mendatangkan tiga mesin cetak lainnya lagi. Namun lagi-lagi ternyata jumlah operator yang mampu mengoperasikan benda tersebut juga masih sangat kurang.

Dalam sejarah penerbitan buku di Indonesia, pada akhir abad ke 19, muncul penerbit dan percetakan yang dibangun oleh orang Tionghoa dan Melayu. Mereka menerbitkan pamflet, brosur, dan cetakan lain yang berisi berita maupun cerita dengan bahasa Melayu atau Tionghoa.

Sedangkan percetakan dan penerbitan milik Belanda kebanyakan menerbitkan surat kabar, pamflet, atau brosur yang berisi terjemahan dari bahasa Belanda ke Melayu. Masyarakt pribumi juga tidak mau kalah sehingga banyak muncul buku yang menggunakan bahasa daerah, hanya saja jumlahnya kalah dengan Belanda dan Tionghoa yang memang memiliki mesin cetak dalam jumlah banyak.

Perkembangan penerbitan pun semakin maju. Pihak kolonial Belanda pun mendirikan Komisi Bacaan Rakyat yang muncul akibat banyaknya karya pribumi dan Tionghoa yang bermutu sangat rendah. Pada tahun 1908, Komisi Bacaan Rakyat diubah namanya menjadi Balai Pustaka.

Baca juga:

Jika Balai Pustaka saat ini banyak mengeluarkan buku pelajaran yang digunakan dalam dunia pendidikan Indonesia, namun mulanya Balai Pustaka tidak pernah mengeluarkan buku pelajaran apapun. Hal ini dikarenakan Balai Pustaka masih dipegang oleh pihak Belanda sehingga lebih banyak mengeluarkan buku untuk kepentingan politik Belanda bahkan hingga jaman penjajahan Jepang.

Bangkitnya Penerbitan di Indonesia

Di tahun 1950-an, banyak muncul penerbitan di pulau Jawa yang didirikan oleh pribumi. Dimana ini menjadi awal sejarah penerbitan buku di Indonesia. Hal ini dikarenakan kekhawatiran karena dominasi penerbitan masih dikuasai oleh Belanda. Meskipun kebanyakan buku yang diterbitkan masih bertema idealis dan politik, namun hal ini menunjukkan mulai bangkitnya penerbitan Indonesia.

Pada tahun 1955, pemerintah Republik Indonesia mengambil alih semua perusahaan milik Belanda dan menasionalisasinya, termasuk semua penerbitan dan percetakan. Pemerintah juga memberikan subsidi kertas pada semua percetakan dan penerbitan sehingga semua penerbitan wajib menghasilkan buku yang murah. Dengan adanya buku yang murah, maka minat baca orang Indonesia pun semakin bertambah.

Pemerintah benar-benar serius dalam meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan didirikannya Yayasan Lektur yang bertugas untuk mengawasi dan mengendalikan harga buku di Indonesia. Pertumbuhan penerbitan dan percetakan di Indonesia pun semakin meningkat.

Pada tahun 1950, IKAPI atau Ikatan Penerbit Indonesia memiliki anggota 13 penerbitan saja, namun pada tahun 1965, jumlah anggota IKAPI bertambah menjadi 600-an. Peningkatan jumlah anggota IKAPI ini menunjukkan kebangkitan penerbitan di Indonesia.

Baca juga:

Jika sebelumnya buku di Indonesia lebih banyak diisi dengan buku yang bertemakan politik dan idealisme, namun seiring dengan perkembangan jaman, buku yang hadir temanya menjadi semakin beragam. Setelah kemunculan penerbitan bertema politik, muncul pula penerbitan yang mengusung tema agama, seperti Mizan dan Gema Insani Press.

Kecenderungan yang beragam ini tidak terlepas dari semangat keberagaman yang berasal dari para mahasiswa Indonesia. Jika sebelumnya, sastrawan seperti Umar Kayam, Kuntowijoyo, Ahmad Tohari, Rendra, dan N.H. Dini bersinar, maka para tokoh pemikir Islam ikut bermunculan, seperti Amien Rais, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Nurcholish Madjid, dan Jalaluddin Rakhmat.

Baca juga :

Tak hanya sekedar menjadi fenomena, tapi juga menjadi penyumbang terbesar dalam sejarah buku di Nusantara. Buku-buku religi bertema Islam laris manis di pasaran. Hingga pada tahun 1998, buku bertema politik, sosial, dan budaya menggantikan musim buku religi. Hal ini berkaitan dengan era reformasi yang saat itu sedang bergejolak.

Setelah melalui panjangnya sejarah penerbitan buku di Indonesia, dunia penerbitan Indonesia semakin maju saat ini. Banyak buku yang selalu menjadi best seller di setiap toko buku di Indonesia. Penulis yang berasal dari kalangan masyarakat biasa pun semakin banyak bermunculan. Bahkan beberapa novel dijadikan sebagai acuan membuat sebuah film, seperti Ayat-Ayat Cinta oleh Habiburrahman El-Shirazy atau Laskar Pelangi oleh Andrea Hirata.

Sponsors Link
, ,
Oleh :
Kategori : Dasar Komunikasi