Sponsors Link

7 Teori Komunikasi Dalam Konteks Media

Sponsors Link

Perkembangan media komunikasi saat ini semakin pesat. Kemudahan dan kecepatan dalam mendapatkan informasi menjadi salah satu kelebihan yang selalu ditawarkan oleh media komunikasi saat ini. Di balik kehebatan dari media itu sendiri, terdapat beberapa teori komunikasi yang melandasi penemuan dan pemutakhiran media tersebut. Untuk lebih memahaminya, berikut ini adalah beberapa teori komunikasi dalam konteks media:

ads

1.  Network Theory

Network theory atau teori jaringan adalah salah satu bidang ilmu komputer dan ilmu jaringan dan juga merupakan bagian dari teori grafik (studi tentang grafik dan struktur matematika). 

Menurut dokter teori Markus Schirmer, teori jaringan melibatkan studi tentang cara elemen-elemen dalam suatu jaringan berinteraksi. “Cara sederhana memahami jaringan adalah dengan mengasumsikan bahwa satu set objek terhubung oleh semacam tautan. Seperangkat objek dapat mewakili, misalnya, manusia, produk, bahan, penyakit, atau wilayah otak, sedangkan tautannya adalah hubungan atau koneksi struktural.” 

Baca juga :

Teori jaringan tidak hanya digunakan pada jaringan komputer, internet, atau World Wide Web, tapi juga dalam ilmu biologi, matematika, dan sains lainnya. Menurut Mason Carpenter, Talya Bauer, dan Berrin Erdogan, kinerja jejaring sosial apa pun.

Termasuk tempat kerja, bergantung pada tiga prinsip: timbal balik, sejauh mana orang melakukan tugas yang serupa satu sama lain; pertukaran, tingkat dimana orang melakukan tugas yang berbeda satu sama lain; dan kesamaan, tingkat kesamaan antara simpul-simpul kelompok. 

2. A Three-Stage Model of Theory-Building

Teori ini terjadi dalam dua tahap yakni tahap deskriptif dan tahap normatif. Teori ini menganggap bahwa semua orang bisa menjadi seorang jurnalis yang mampu memberikan berbagai informasi kepada siapa saja. Terdapat tiga sub-tahapan dalam deskriptif teori-bangunan yaitu, pengamatan fenomena, klasifikasi induktif dalam skema dan taksonomi, dan hubungan korelatif untuk mengembangkan model.


3. Social Construction of Technology

Social Construction of Technology adalah teori yang menggambarkan bahwa teknologi tidak mampu menentukan apa yang akan terjadi pada manusia, namun manusia lah yang akan menentukan apa yang akan dilakukan dengan menggunakan teknologi tersebut.

Dalam teori ini dijelaskan tentang keberhasilan suatu teknologi tidak dilihat dengan mengatakan bahwa itu adalah “yang terbaik” – para peneliti harus melihat bagaimana kriteria menjadi “yang terbaik” didefinisikan dan kelompok apa serta para pemangku kepentingan yang berpartisipasi dalam mendefinisikannya.

Baca juga:

Secara khusus, mereka harus mengetahui siapa yang mendefinisikan kriteria teknis yang berhasil diukur, mengapa kriteria teknis didefinisikan dengan cara ini, dan siapa yang dimasukkan atau dikecualikan. 

Pinch dan Bijker berpendapat bahwa determinisme teknologi adalah mitos yang dihasilkan ketika seseorang melihat ke belakang dan percaya bahwa jalan yang diambil hingga saat ini adalah satu-satunya jalan yang mungkin.

4. Participatory Media Culture

Dalam teori ini, Jenkins menjelaskan bahwa setiap penikmat informasi yang diberikan oleh media tidak hanya dapat dikonsumsi saja, tapi semua orang mempunyai kontribusi masing-masing dalam meneruskan, mengolah, atau memperjelas informasi yang diterima. Bentuk partisipatori menurut Jenkins, et.al (2005) dapat dinyatakan dengan 4 aspek:

  • Affiliations, dimana keanggotaan, formal atau informal, dalam komunikasionline terpusat.
  • Expressions, memproduksi bentuk kreativitas baru.
  • Collaborative Problem-solving, membuka peluang bekerja dalam tim,formal atau informal, untuk menyelesaikan sebuah tugas danmengembangkan pengetahuan, dan
  • Circulations, membentuk aliran media.

5. Medium Theory

Teori komunikasi dalam konteks media selanjutnya adalah medium theory. Teori medium berfokus pada karakterisasi medium itu sendiri daripada pada apa yang disampaikannya atau bagaimana informasi diterima. Secara teori, medium bukan hanya kertas berita, televisi, atau kamera digital dan sebagainya. Sebaliknya itu adalah lingkungan simbolis dari tindakan komunikatif apa pun. Misalnya internet atau blog.


Baca juga:

6. Teori Difusi Inovasi

Everett Rogers pada tahun 1964 menjelaskan bagaimana, dari waktu ke waktu, suatu ide atau produk memperoleh momentum dan menyebar (atau menyebar) melalui populasi atau sistem sosial tertentu.

Terdapat lima faktor utama yang mempengaruhi adopsi suatu inovasi , dan masing-masing faktor ini berperan pada tingkat yang berbeda dalam lima kategori adopter.

  1. Keuntungan Relatif – Sejauh mana inovasi dipandang lebih baik daripada ide, program, atau produk yang digantikannya.
  2. Kompatibilitas – Seberapa konsisten inovasi dengan nilai-nilai, pengalaman, dan kebutuhan pengadopsi potensial.
  3. Kompleksitas – Betapa sulitnya inovasi untuk dipahami dan / atau digunakan.
  4. Triabilitas – Sejauh mana inovasi dapat diuji atau dicoba dengan sebelum komitmen untuk mengadopsi dibuat.
  5. Observability – Sejauh mana inovasi memberikan hasil nyata.

7. Uses and Gratifications Model

Teori komunikasi dalam konteks media terakhir ini menjelaskan bagaimana orang menggunakan media untuk kebutuhan mereka sendiri dan merasa puas ketika kebutuhan mereka terpenuhi. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa teori ini membahas apa yang dilakukan orang dengan media daripada apa yang media lakukan terhadap orang.

Baca juga:

Itulah 7 teori komunikasi dalam konteks media yang masih digunakan saat ini. Penggunaan teori tersebut juga disesuaikan dengan kondisi yang terjadi dalam sebuah komunikasi. Meskipun masih banyak mengundang kritikan, namun teori-teori ini sangat berperan penting dalam perkembangan komunikasi.

Sponsors Link
, ,
Oleh :
Kategori : Media Komunikasi