Teori Peran dalam Komunikasi Interpersonal

Film merupakan sebuah karya seni berupa audio visual yang ditampilkan ke dalam layar datar dengan mencampurkan unsur-unsur seni lainnya. Film termasuk ke dalam media komunikasi yang sangat disukai oleh masyarakat karena informasi yang disampaikan melalui film lebih mudah untuk dipahami.

Film menampilkan karya seni berupa alur cerita yang terkadang lebih menunjukkan realitas kehidupan di masyarakat. Selain berfungsi sebagai informasi, film juga berfungsi sebagai edukasi, hiburan, dan persuasif tergantung dari isi film yang disajikan. Proses pembuatan film tidaklah mudah , ada beberapa tahap dan unsur yang harus dilalui agar pesan yang ada dalam film tersebut bisa diterima oleh masyarakat. Sebuah film akan menampilkan cerita yang baik dengan menggunakan skenario sebagai acuan si pemeran atau aktor.

Dari kutipan di atas dapat dianalogikan bahwa teori peran seperti sebuah film, film sebagai kehidupan, aktor atau peran sebagai masyarakat, dan skenario sebagai alur kehidupan. Ketika masyarakat mengikuti alur kehidupan dan menjalani perannya masing-masing akan tercipta harmonisasi dalam hidup.

Pengertian

Teori peran adalah sebuah sudut pandang dimana masyarakat memiliki aktivitas setiap hari sesuai dengan peranannya masing-masing yang sudah ditetapkan dalam kategori sosial. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, peran merupakan perangkat tingkah yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan dalam masyarakat. Peran sosial meliputi serangkaian hak, kewajiban, harapan, norma, dan perilaku seseorang untuk dihadapi dan dipenuhi.

Teori ini fokus pada peran masyarakat yang memiliki perilaku sesuai dengan posisi sosial yang sudah ditetapkan. Misalnya, seorang ibu, pemimpin negara, guru, anggota organisasi, dan lainnya). Film merupakan analogi yang sesuai untuk menggambarkan teori peran dalan komunikasi interpersonal. Komunikasi interpersonal itu sendiri adalah individu yang sedang berkomunikasi dengan individu lainnya, lalu keduanya mengerti makna dan bahasa dari bahan yang menjadi topik untuk komunikasi.

Baca juga:

Konsep Teori Peran

Teori peran berkaitan dengan komunikasi interpersonal karena setiap individu yang terlibat dalam komunikasi interpersonal berkewajiban untuk memainkan perannya sesuai dengan skenario dalam kehidupan masyarakat. Harmonisasi masyarakat akan tercipta apabila setiap individu bertingkah laku sesuai dengan peranan yang diharapkan (role expectation) yang meliputi kewajiban, tugas, dan posisi tertentu; tuntutan peran (role demands) merupakan desakan sosial yang mengharuskan individu untuk memenuhi peranannya, apabila tidak terpenuhi maka ada sanksi-sanki sosial tertentu; memiliki keterampilan dalam berperan (role skills), dan terhindar dari konflik peranan.

Baca juga:

Hambatan

Hambatan dalam teori peran dapat terjadi ketika individu tidak dapat menjalani perannya sendiri dan kurangnya komunikasi antar individu lainnya. Adapun hambatan atau ketidakberhasilan teori peran adalah sebagai berikut:

  1. Role conflict

Konflik peran terjadi karena adanya peranan dan tugas- tugas yang berbeda, sehingga menimbulkan harapan-harapan yang bertentangan. Menurut Handoko, konflik peran dalam diri individu adalah sesuatu yang terjadi bila seorang individu menghadapi ketidakpastian tentang pekerjaan yang diharapakan untuk melaksanakannya, bila semua permintaan pekerjaan saling bertentangan, bila seorang individu diharapkan untuk melakukan lebih dari kemampuannya. Misalnya, seorang ayah dalam bekerja di perusahaan yang sama dengan anaknya. Di satu sisi ia berperan sebagai seorang ayah, di sisi lain ia berperan sebagai pemimpin di perusahaan tersebut.

  1. Role strain

Role strain terjadi karena adanya harapan-harapan yang bertentangan dalam satu peranan yang sama. Selain itu, role strain terjadi karena peran apapun sering menuntut interkasi dengan status lain yang berbeda dan harapan yang berbeda. Misalnya, seorang karyawan yang berperan sebagai marketing dalam sebuah perusahaan, ia memiliki beberapa pernana seperti sebagai karyawan yang memiliki pemimpin di perusahaannya, sebagai marketing penjualan terhadap klien, dan sebagai partner kerja sesama karyawan.

Faktor-faktor Penyesuaian Peran

Faktor-faktor yang mempengaruhi individu untuk menyesuaikan diri sesuai dengan peran yang dijalaninya adalah sebagai berikut:

  • Seorang individu harus mengetahui informasi tentang kejelasan perilaku dan pengetahuan sesuai dengan perannya
  • Seorang indvidu harus bisa menciptakan keselarasan budaya dan harapan individu terhadap perilaku peran
  • Seorang individu harus mampu memisahkan ketidaksesuaian perilaku peran
  • Seorang individu harus dapat menyesuaikan peran yang dilakukan
  • Seorang individu harus konsisten respon orang yang berarti terhadap peran yang dilakukan

Baca juga:

Proses untuk Meminimalisir Ketegangan Peran

Peran memiliki keterkaitan dengan sifat dan kepribadian seseorang. Melalui sifat dan kepribadian seseorang menentukan apakah seorang individu nyaman dengan peran yang sedang dilakukannya. Adapun proses untuk meminimalisir ketegangan peran adalah sebagai berikut:

  • Rasionalisasi: Upaya memperkecil konflik perang dengan cara menutupi kenyataan konflik peran dan mencegah kesadaran bahwa terjadi konflik peran.
  • Pengkotakan: Upaya meminimalisir ketegangan peran dengan cara membatasi diri dari seseorang dengan mengkotak-kotaki diri secara terpisah, sehingga orang tersebut hanya dapat menanggapi dalam waktu tertentu saja.
  • Ajudikasi: Upaya yang resmi untuk mengalihkan penyelesaian konflik peran kepada puhak ketiga, sehingga orang tersebut merasa bebas dan tidak memiliki tanggungjawab.
  • Kedirian: Upaya mengalihkan konflik secara halus dengan menggunakan jarak peran. Ketika seorang individu terkena konflik peran maka individu tersebut akan mengambil jarak untuk dari peran yang mereka lakukan. Jarak peran menunjukkan bahwa individu tersebut merasa kurang terikat terhadap peran yang ia jalani.

Baca juga: